28 Februari 2014

Pendidikan Ketarunaan di SMKN 1 Wonoasri

Mendengar nama Pendidikan dan Latihan Ketarunaan, mungkin semua orang langsung menghubungkan dengan pendidikan di Akademi Militer atau Pendidikan Kemiliteran Secata, Secaba dan lain sebagainya. Anggapan itu memang ada benarnya, karena Pendidikan dan Latihan Ketarunaan memang dirangcang seperti pendidikan militer, tetapi tidak sekeras atau seberat yang dilakukan oleh kemiliteran. Pendidikan dan Latihan Dasar Ketarunaan SMKN 1 Wonoasri adalah Wahana untuk membentuk mindset dan Karakter siswa agar menjadi Taruna sehat, kuat, disiplin dan berkarakter serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tujuan SMK dan tujuan Kompetensi Keahlian. Diklatsar Taruna juga merupakan wahana menumbuh kembangkan dan mengimplementasikan nilai-nilai daya cipta(koqnisi) , karsa(Afeksi) dan rasa(action). Keseimbangan antara kecerdasan kognitif (pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya. Pendidikan dan Latihan Dasar Ketarunaan merupakan implementasi dari nilai-nilai Karakter bangsa yang telah dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional yaitu Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah Air, Komunikatif, Bersahabat, Cinta Damai, Gemar Membaca, Cinta Lingkungan, Peduli sosial, Tanggung Jawab dan Mempunyai Jiwa Enterpreneurship. Materi Pendidikan dan Latihan Ketarunaan SMKN 1 Wonoasri terdiri dari : PBB, Lari, Merayap, Sit Up, Push Up, Long March, Pull Up, Rol Depan Belakang, Melompat, Paskibra, Tiarap, Renungan, Kerohanian, Caraka Malam, Kesehatan, Jembatan Tali, Pembinaan Mental, Wawasan Bela Negara, Wawasan Cinta Tanah Air, Seni Budaya, Kewirausahaan, Pertahanan battalion, Leadership, Bela Diri Militer, Senam balok. Peraturan Baris Berbaris (PBB) sebagai dasar pembentukan karakter disiplin, jujur, kekompakan, saling menghormati, kerja keras dan bertanggung jawab diberikan kepada seluruh taruna dengan porsi latihan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis latihan lainnya. PBB dimaksudkan juga untuk membentuk karakter ketegaran keseragaman, ketangkasan, kesigapan, kelincahan, keindahan, kerapihan, ketanggapan, ketertiban, kekhidmatan dan kesopanan. PBB juga dapat membentuk sikap batin berupa sikap ketenangan, keberanian, ketaatan, kekuatan, keikhlasan, kesaradaran, persaudaraan dan pengorbanan. Lari, merayap, sit up, push up, long march, pull up, rol depan belakang dan melompat dimaksudkan untuk membentuk fisik taruna agar sehat dan kuat. Dengan fisik yang kuat dan sehat, maka akan menambah kepercayaan diri taruna dalam bertindak. Paskibraka diberikan kepada seluruh taruna, agar taruna mempunyai sikap wawasan kebangsaan yang tinggi dan siap menjaga empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhenika Tunggal Ika dan NKRI. Seluruh kegiatan ketarunaan dimulai dengan do’a dan diakhiri juga dengan do’a dan setiap kegiatan selalu memegang teguh nilai-nilai religius yang diajarkan oleh masing-masing agama, bahkan penggunaan seragam latihan dan seragam harian taruna selalu mencerminkan nilai-nilai agamis. Pembinaan kerohanian dilakukan secara terus menerus selama pendidikan berlangsung. Untuk menambah kekuatan fisik dan keseimbangan taruna diberikan materi senam balok, beladiri militer dan jembatan tali. Sedangkan untuk memupuk dan mempertebal rasa kebangsaan kepada taruna diberikan materi-materi wawasan kebangsaan, pertahanan b

03 Oktober 2008

Sertifikasi Guru Antara Harapan dan Kenyataan

Diluncurkanya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sebenarnya membawa angin segar bagi guru, terutama hubungannya dengan janji yang diberikan dalam Undang-Undang tersebut yang akan memberikan peningkatan kesejahteraan guru yang berlipat-lipat. Guru yang sudah mendapat sertifikat pendidik akan memperoleh berbagai tunjangan yaitu tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, tunjangan pendidikan dan lain-lain. Kalau melihat janji yang tertuang dalam Undang-Undang tersebut jelas sangat menggiurkan bagi semua guru.
Setelah waktu berjalan lewat satu tahun sejak diluncurkannya Undang-Undang tersebut Pemerintah tidak mampu untuk menyususn Peraturan Pemerintah yang akan menjadi acuan pelaksanaan uji sertifikasi bagi guru. Ketidakmampuan Pemerintah dalam mewujudkan Peraturan Pemerintah, akhirnya muncul Permendiknas No. 18/2007 yang mengatur tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Bentuk sertifikasi guru dalam jabatan adalah Sertifikasi dengan menggunakan model Portofolio. Mengapa muncul sertifikasi model Portofolio ?, inilah yang perlu dicermati, ternyata pemerintah takut melanggar Undang-Undang. Di dalam UU No. 14 Tahun 2005 pasal
Menurut Undang Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Guru sebagai profesi, bukan lagi dianggap sebagai pekerjaan biasa, tetapi suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan dan keahlian tertentu yang tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang.
Guru mengemban tugas sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, dalam pasal 39 ayat 1. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan ayat 2 berbunyi pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Di dalam Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Pengakuan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

Menurut Oemar Hamalik dalam Yamin (2006 : 7) guru profesional harus memiliki persyaratan yang meliputi (1) memiliki bakat sebagai guru, (2) memiliki keahlian sebagai guru, (3) memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi, (4) memiliki mental yang sehat, (5) berbadan sehat, (6) memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, (7) berjiwa Pancasila, (8) merupakan warga negara yang baik.

Sedangkan menurut Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7, profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut : (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, (3) memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (4) memilik kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (5) memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Dalam kenyataannya mutu guru di Indonesia sangat beragam dan rata-rata masih di bawah standar yang telah ditentukan. Banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan dan belum mempunyai kompetensi yang telah disyaratkan.

Sertitifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi. Sertifikasi berasal dari kata certification yang berarti diploma atau pengakuan secara resmi kompetensi seseorang untuk memangku sesuatu jabatan profesional. Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar dalam mata pelajaran, jenjang dan bentuk pendidikan tertentu seperti yang diterangkan dalam sertifikat kompetensi tersebut (depdiknas, 2003).

Dalam Undang Undang No. 14/2005 pasal 2, disebutkan bahwa pengakuan guru sebagai tenaga yang profesional dibuktikan dengan sertifikasi pendidik. Selanjutnya pasal 11 menjelaskan bahwa sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.

Menurut Samani (2006 : 8) sertifikat pendidik adalah bukti formal dari pemenuhan dua syarat, yaitu kualifikasi akademik minimum dan penguasaan kompetensi minimal sebagai guru. Sedangkan menurut Trianto dan Tutik (2007 : 9) Sertifikat pendidik adalah surat keterangan yang diberikan suatu lembaga pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi sebagai bukti formal kelayakan profesi guru, yaitu memenuhi kualifikasi pendidikan minimum dan menguasai kompetensi minimal sebagai agen pembelajaran.

Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemeberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi (Mulyasa, 2007 : 34).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Sertifikasi pendidik adalah suatu bukti pengakuan sebagai tenaga profesional yang telah dimiliki oleh seorang pendidik dalam melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah yang bersangkutan menempuh uji kompetensi yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi.

TTTujuan dan Manfaat Sertifikasi

Menurut Wibowo dalam Mulyasa (2007 : 35) mengungkapkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah (1) melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan, (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten, sehingga merusak citra pendidik dan tenaga kependidikan, (3) membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan, dengan menyediakan rambu-rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang kompeten, (4) membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan, (5) memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan.

Sedangkan menurut Departemen Pendidikan Nasional mengungkapkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, (2) meningkatkan profesionalisme guru, (3) meningkatkan proses dan hasil pendidikan, (4) mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

Manfaat sertifikasi pendidik dan kependidikan menurut Mulyasa (2007: 35) yaitu untuk pengawasan dan penjaminan mutu tenaga kependidikan dalam rangka pengembangan kompetensi, pengembangan karir tenaga kependidikan secara berkelanjutan dan peningkatan program pelatihan yang lebih bermutu.

28 Juni 2008

PEMBELAJARAN SAIN KONTEKSTUAL MELALUI HANDS ON ACTIVITY

1. Apa itu Hands on Activity?

Pengembangan kurikulum sains merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta tuntutan desentralisasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Kompetensi sains menjamin pertumbuhan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan kecakapan hidup, penguasaan prinsip-prinsip alam, kemampuan bekerja dan bersikap ilmiah sekaligus pengembangan kepribadian Indonesia yang kuat dan berakhlak mulia.

Abad XXI dikenal sebagai abad globalisasi dan abad teknologi informasi. Perubahan yang sangat cepat dan dramatis dalam bidang ini merupakan fakta dalam kehidupan siswa. Pengembangan kemampuan siswa dalam bidang sains merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dan memasuki dunia teknologi, termasuk teknologi .nformasi. Untuk kepentingan pribadi, sosial, ekonomi dan lingkungan, siswa perlu dibekali dengan kompetensi yang memadai agar menjadi peserta aktif dalam masyarakat.

Landasan teoritik pembelajaran sains kontekstual adalah teori konstruktivisme. Prinsip teori konstruktivisme adalah ‘aktivitas harus selalu mendahului analisis’. Selain itu, pembelajaran sains kontekstual merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep sains dan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills) (Hardanto, 2003).

Konsep belajar dalam pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif yakni: konstuktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian sebenarnya (Hatta, 2003; Hardanto, 2003).

Hands on activity adalah suatu model yang dirancang untuk melibatkan siswa dalam menggali informasi dan bertanya, beraktivitas dan menemukan, mengumpulkan data dan menganalisis serta membuat kesimpulan sendiri. Siswa diberi kebebasan dalam mengkonstruk pemikiran dan temuan selama melakukan aktivitas sehingga siswa melakukan sendiri dengan tanpa beban, menyenangkan dan dengan motivasi yang tinggi. Kegiatan ini menunjang sekali pembelajaran kontekstual dengan karakteristik sebagaimana disebutkan oleh Hatta (2003) yaitu: kerjasama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif.

Dalam hands on activity akan terbentuk suatu penghayatan dan pengalaman untuk menetapkan suatu pengertian (penghayatan) karena mampu membelajarkan secara bersama-sama kemampuan psikomotorik (keterampilan), pengertian (pengetahuan) dan afektif (sikap) yang biasanya menggunakan sarana laboratorium dan atau sejenisny. Juga, dapat memberikan penghayatan secara mendalam terhadap apa yang dipelajari, sehingga apa yang diperoleh oleh siswa tidak mudah dilupakan. Dengan hands on activity siswa akan memperoleh pengetahuan tersebut secara langsung melalui pengalaman sendiri.

2. Mengapa hands on activity

Kurikulum sains disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan sains secara nasional. Saat ini kesejahteraan bangsa tidak hanya lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial dan kepercayaan (kredibilitas). Dengan demikian tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan sains menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Industri baru dikembangkan dengan berbasis kompetensi sains dan teknologi tingkat tinggi, maka bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berpendidikan dengan standar mutu yang tinggi.

Kurikulum Sains menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Pemahaman ini bermanfaat bagi siswa agar dapat menanggapi: i) isu lokal, nasional, kawasan, dunia, sosial, ekonomi, lingkungan dan etika; ii) menilai secara kritis perkembangan dalam bidang sains dan teknologi serta dampaknya; iii) memberi sumbangan terhadap kelangsungan perkembangan sains dan teknologi; dan iv) memilih karir yang tepat. Oleh karena itu, kurikulum Sains lebih menekankan agar siswa menjadi pebelajar aktif dan luwes.

Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Sains di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.

Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk "mencari tahu" dan "berbuat" sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Pendekatan Pembelajaran Sains

Kurikulum Berbasis Kompetensi memberikan rambu-rambu bahwa terdapat 3 hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pengembangan program dan pelaksanaan pembelajaran sains, yaitu:

a. Pengembangan sains menjadikan siswa menguasai kecakapan hidup secara luas, bukan sekedar menyerap produk ilmu pengetahuan alam

b. Proses pembelajaran sains adalah penyediaan pengalaman belajar kepada siswa untuk membangun sendiri kompetensi-kompetensi yang mendukung tercapainya penguasaan kecakapan hidup (life skills).

c. Pembelajaran sains dirancang agar siswa mengeksplorasi isu-isu ‘salingtemas’ di lingkungan kehidupan nyata.

Berdasarkan ketiga hal di atas implementasi pembelajaran sains dapat menggunakan metodologi pembelajaran yang sekarang popular yaitu pembelajaran konstruktivis dan kontekstual. Pembelajaran kontekstual memandang siswa belajar untuk membangun kecakapannya dalam konteks kehidupan nyata. Sebagai metodologi, karena pembelajaran contextual juga mengimplementasikan metode-metode tertentu (Susanto, 2004)

Pembelajaran Kontekstual dalam Sains

Menurut teori kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila para siswa memproses informasi atau pengetahuan sedemikian rupa sehingga informasi itu bermakna bagi mereka dalam kerangka acuan mereka sendiri, kerangka itu bersangkut paut dengan dunia memori, pengalaman dan respon. Kontekstual berlangsung bila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan mengacu pada permasalahan riil yang bersangkut paut dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa maupun pekerja. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit-demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Nurhadi dkk, 2003:13).

Pendidikan berbasis kontekstual adalah pendidikan yang berbasis kehidupan nyata. Berdasarkan konsep tersebut dapat diartikan bahwa pembelajaran sains yang berbasis kontekstual adalah pembelajaran sains yang berada pada konteks kehidupan alam nyata siswa. Pada konsep tersebut dapat dikembangkan beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam proses pembelajaran sains (Susanto, 2002 dalam Susanto, 2004), yaitu;

o Pembelajaran sains erat kaitannya dengan pengalaman alam kehidupan nyata. Pada pembeljaran sains siswa memecahkan masalah secara riil dan otentik, artinya materi itu ada dan terjangkau oleh pengalaman nyata siswa.

o Pada Pendidikan sains guru perlu menghubungkan bahan ajar/kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan situasi nyata.

o Pada pendidikan sains pengetahuan yang diajarkan hendaknya berhubungan erat dengan pengalaman siswa yang sesungguhnya.

Konsep-konsep materi pelajaran dalam pendidikan biologi seharusnya ditemukan sendiri oleh siswa melalui kegiatan mereka dalam proses belajar mengajar. Dengan hands on activity siswa mendapatkan pengalaman dan penghayatan terhadap konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Selain untuk membuktikan fakta dan konsep, hands on activity juga mendorong rasa ingin tahu siswa secara lebih mendalam sehingga cenderung untuk membangkitkan siswa mengadakan penelitian untuk mendapatkan pengamatan dan pengalaman dalam proses ilmiah.

Melalui hands on activity siswa juga dapat memperoleh manfaat antara lain: menambah minat, motivasi, menguatkan ingatan, dapat mengatasi masalah kesulitan belajar, menghindarkan salah paham, mendapatkan umpan balik dari siswa serta menghubungkan yang konkrit dan yang abstrak

Dalam pelaksanaan hands on activity agar benar-benar efektif perlu memperhatikan beberapa hal meliputi : aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek afektif. Zainuddin (2001) menguraikannya sebagai berikut: ranah kognitif dapat dilatihkan dengan memberi tugas: memperdalam teori yang berhubungan dengan tugas hands on activity yang dilakukan, menggabungkan berbagai teori yang telah diperoleh, menerapkan teori yang pernah diperoleh pada masalah yang nyata. Ranah psikomotorik dapat dilatihkan melalui: memilih, mempersiapkan, dan menggunakan seperangkat alat atau instrumen secara tepat dan benar. Ranah afektif dapat dilatihkan dengan cara: merencanakan kegiatan mandiri, bekerjasama dengan kelompok kerja, disiplin dalam kelompok kerja, bersikap jujur dan terbuka serta menghargai ilmunya.

3. Bagaimana melakukan Pembelajaran Kontekstual dengan hands on activity

Berikut ini diberikan contoh pembelajaran kontekstual dengan hands on activity dengan mengambil topik tertentu (dalam contoh ini adalah tentang Ekosistem). Untuk topik yang lain tentu dapat disesuaikan dengan keadaan yang ada.

a. Tahap Persiapan

Yang dimaksud persiapan dalam hal ini adalah melakukan identifikasi semua keperluan yang akan digunakan dalam pembelajaran.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

1) Menyusun silabus, lembar kerja siswa (LKS) untuk kegiatan praktikum kontekstual.

2) Membuat lembar observasi (pedoman pengamatan) untuk mengamati motivasi dan aktivitas belajar siswa yang tampak selama mengikuti kegiatan praktikum.

3) Membuat angket untuk merekam motivasi belajar siswa selama mengikuti kegiatan praktikum kontekstual.

4) Membuat rambu-rambu penilaian selama siswa melakukan aktivitas praktikum kontekstual.

5) Mengelompokkan siswa sesuai dengan keheterogenan (misalnya berbasis nilai ulangan harian pada bab sebelumnya, jenis kelamin atau bentuk lain yang mendukung maksud ini). Jumlah siswa dalam satu kelas dibagi menjadi kelompok yang yang tidak terlalu besar jumlahnya dan memudahkan guru melakukan pengelolaan kelas. Hal ini sangat tergantung dari kondisi riil yang ada.

b. Tahap Pelaksanaan

Praktikum kontekstual dilakukan secara in situ (langsung di alam) yang bertujuan untuk membangkitkan motivasi siswa yang ditunjukkan dalam aktivitas mereka selama melakukan pengamatan dalam kegiatan praktikum. Praktikum in situ dilakukan untuk pengamatan langsung “komponen penyusun ekosistem” di tempat pengamatan yang dilakukan siswa.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a. Guru membimbing dan mengarahkan siswa selama pengamatan.

b. Siswa dibagi menjadi 7 kelompok

c. Setiap kelompok mendapatkan lembar kerja siswa untuk kegiatan praktikum tentang topik tertentu.

d. Pertemuan I (pengamatan terhadap hasil tindakan dititikberatkan terhadap aktivitas siswa selama melakukan kegiatan praktium kontekstual): siswa melakukan kegiatan praktikum tentang Komponen Ekosistem di luar kelas (dibedakan atas 3 daerah pengamatan praktikum: halaman sekolah, bekas kolam sekolah (airnya kering), taman di luar sekolah):

· Masing-masing kelompok melakukan pengamatan pada sebidang tanah yang sudah ditentukan lokasinya dengan ukuran 1m x 1m.

· Siswa melemparkan batu secara sembarang dan batu tersebut dijadikan titik pusat diagonal lalu siswa membuat bujur sangkar 1m x 1m dengan menggunakan patok bambu dan tali rafia.

· Siswa mencatat populasi makhluk hidup (komponen biotik) dan menghitung jumlah individu dalam tiap-tiap populasi serta komponen abiotik dari lokasi pengamatan. Untuk memudahkan, siswa mengisi tabel yang sudah disediakan.

·

No

Makhluk hidup

Makhluk tak hidup

Nama

Jumlah

Nama

Jumlah

1

............................

........................

.........................

......................

2

............................

........................

.........................

......................

3

............................

........................

.........................

......................

4

............................

........................

.........................

......................

...

............................

........................

.........................

......................

· Siswa menghitung jumlah populasi dan jumlah makhluk hidup setiap populasi yang menyusun komunitas dalam petak yang diamati dan juga menyebutkan komponen lain yang ada di petak tersebut.

· Siswa mengelompokkan komponen-komponen yang diamati menjadi 2 kelompok besar yaitu komponen biotik dan abiotik.

· Siswa membuat rangkuman dari hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan kelompok lain.

e. Pertemuan II: siswa melakukan diskusi hasil pengamatan dan membandingkannya dengan kelompok lain, kegiatan pemantapan dilakukan guru terhadap materi pelajaran yang sudah diajarkan dan tes untuk melihat hasil belajar sub bab ini. Pada pertemuan II pengamatan hasil tindakan dititikberatkan terhadap motivasi siswa selama melakukan kegiatan praktium kontekstual.

Selama pelaksanaan kegiatan ini juga dilakukan observasi untuk melihat:

a. Pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menerapkan kegiatan praktikum kontekstual menggunakan lembar observasi yang telah dibuat peneliti. Lembar observasi meliputi lembar untuk observasi motivasi dan aktivitas siswa selama proses belajar mengajar.

b. Selain menggunakan lembar observasi, keadaan di dalam kelas selama kegiatan belajar mengajar dicatat dalam jurnal/catatan lapangan.

Setelah observasi dilakukan refleksi, yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

a. Mengumpulkan dan menganalisis data hasil observasi dan data dari catatan lapangan.

b. Melakukan refleksi apakah tindakan yang telah dilakukan dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Biologi.

c. Hasil refleksi ini dalat digunakan sebagai acuan untuk melakukan kualitas hands on activity (praktikum kontekstual)

Pembelajaran tahap berikutnya

Pada pembelajaran berikutnya, tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan sama dengan pada tahap sebelumnya tetapi kegiatan pengamatan dilakukan di dalam kelas (bentuk variasi pengamatan) dengan dan materi pengamatan diubah sehingga siswa tidak akan mengamati hal yang sama seperti tahap sebelumnya. Kegiatan difokuskan pada upaya untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tahap Perencanaan II

a. Menyusun lembar kerja siswa untuk kegiatan praktikum tentang Peran dan Interaksi Komponen Ekosistem (Sub bagian Hubungan antar Komponen Penyusun Ekosistem).

b. Guru menyiapkan dua jenis pot yang berisi tanaman segar dan tanaman kering akibat sering dan jarang disiram dan mengacak kelompok siswa untuk melakukan pengamatan.

c. Menyiapkan lembar observasi (pedoman pengamatan) untuk mengamati motivasi dan aktivitas belajar siswa yang tampak selama mengikuti kegiatan praktikum

d. Menyiapkan angket untuk mengamati motivasi belajar siswa selama mengikuti kegiatan praktikum

e. Membuat rambu-rambu penilaian selama siswa melakukan aktivitas praktikum.

f. Mengelompokkan siswa sesuai dengan kelompok yang sudah dibentuk pada tahap I.

Tahap Pelaksanaan II

Berdasarkan rencana II yang telah disusun, maka pelaksanaan disesuaikan dengan rencana II, yakni sebagai berikut

a. guru membimbing dan mengarahkan siswa dalam kegiatan praktikum.

b. Semua anggota tim peneliti yang lain berperan sebagai observer aktivitas siswa.

d. Siswa membagi ke dalam menjadi kelompok sebagaimana dilakukan pada tahap I.

e. Setiap kelompok mendapatkan lembar kerja siswa untuk kegiatan praktikum tentang Peran dan Interaksi Komponen Ekosistem.

f. Siswa melakukan kegiatan praktikum tentang Hubungan antar Komponen Penyusun Ekosistem. Pertemuan I: siswa melakukan kegiatan praktikum:

- Masing-masing kelompok melakukan pengamatan pada kedua pot yang sudah disiapkan.

- Siswa mencatat perbedaan yang tampak pada kedua pot yaitu pada tanaman dan tanah dalam pot.

Perbedaan

Pot A berisi tanaman mawar segar

Pot B berisi tanaman mawar layu/kering

1..............



2. .............



3. .............



4. dst



- Siswa membuat rangkuman dari hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan kelompok lain.

- Siswa melakukan diskusi hasil pengamatan dan membandingkannya dengan kelompok lain, kegiatan pemantapan dilakukan guru terhadap materi pelajaran yang sudah diajarkan dan tes untuk melihat hasil belajar terhadap sub bab ini.

Tahap Observasi II

Tahap ini dilakukan sebagaimana tahap pertama.

Tahap Refleksi II

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, yaitu melakukan refleksi diri mengenai proses dan hasil yang diperoleh dalam melaksanakan tindakan yang telah diterapkan pada tahap II.

Berikut ditampilkan contoh-contoh lembar observasi untuk mengamati motivasi, aktivitas dan

Tabel 1. Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Menerapkan Hands on Activity

Tahap Pembelajaran

Uraian

Tampak/

tidak



Pendahuluan

a. Guru memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan hands on activity melalui praktikum Ekosistem.

b. Guru mengantarkan siswa pada materi Ekosistem.



Inti

a. Guru menyuruh siswa untuk membentuk kelompok dan membagi kelompok siswa ke dalam 3 daerah pengamatan.

b. Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS).

c. Guru memberikan penjelasan singkat kepada siswa tentang prakti-kum yang akan berlangsung.

d. Guru mengawasi dan membimbing siswa selama praktikum berlang-sung.

e. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi praktikum.

f. Guru memberikan pujian kepada siswa jika selama kegiatan prakti-kum menunjukkan aktivitas yang tinggi.

g. Guru memberikan pertanyaan pemantapan kepada siswa selama praktikum berlangsung.

h. Guru memberikan pertanyaan pengembangan kepada siswa pada saat siswa aktif melakukan praktikum



Penutup

a. Guru membantu siswa dalam membuat rangkuman hasil pengamatan

b. Guru membantu siswa menyimpulkan hasil kegiatan praktikum setelah membandingkan dengan kelompok lain



Tabel 2. Lembar Observasi Motivasi Siswa selama Proses Belajar Mengajar

Aspek Motivasi

Uraian

Jumlah Siswa

Aspek Tingkah Laku

a. Siswa aktif dalam berdiskusi secara benar selama praktikum.

b. Siswa cenderung mendominasi saat melakukan praktikum.

c. Melaporkan hasil kerja kelompok tanpa ditunjuk.

d. Membetulkan dan memperbaiki jawaban yang keliru dengan segera.

e. Mencatat apa yang telah dipelajari.


Aspek Kognitif

a. Menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh guru.

b. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa lain.

c. Mengajukan pertanyaan kepada guru yang berkaitan dengan praktikum

d. Mengajukan pertanyaan kepada siswa lain

e. Mengemukakan ide-idenya


Aspek Ketertarikan

a. Menunjukkan sikap ingin tahu

b. Berusaha secepatnya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru

c. Mau berpikir dan tidak putus asa untuk mencari jawaban lewat buku atau teman


Tabel 3. Lembar Observasi Aktivitas Siswa selama Proses Belajar Mengajar

Aspek yang dinilai

Kriteria

Skor Penilaian

3

2

1

1. Melakukan pengamatan

3. Pengamatan dilakukan sesuai dengan LKS, secara sungguh-sungguh dan tidak bergurau

2. Pengamatan sesuai dengan LKS tapi sering bergurau

1. Tidak melakukan pengamatan




2. Merekam data pengamatan

3. Data hasil pengamatan ditulis secara rapi dan benar

2. Data pengamatan ditulis rapi tapi salah

1. Data pengamatan acak-acakan dan salah




3. Mengkomuni-kasikan hasil pengamatan

3. Siswa dapat menjelaskan dengan baik hasil pengamatannya kepada teman-teman dan guru tanpa bantuan

2. Siswa dapat menyampaikan hasil pengamatan yang kadang-kadang perlu bantuan teman atau guru

1. Siswa berani menyampaikan hasil pengamatan tetapi perlu koreksi dan bantuan dari teman atau guru




4. Penyelesaian tugas

3. Siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tempat bekerja dirapikan dan dibersihkan.

2. Siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik tapi tempat bekerja tidak rapi/kotor

1. Siswa tidak menyelesaikan tugas dengan baik, tempat bekerja masih tidak rapi/kotor




Tabel 4. Angket Tentang Motivasi Belajar Biologi

Isilah pernyataan pada tabel berikut ini dengan tanda cek (√), apabila:

Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu (RR), Tidak Setuju (TS) atau Sangat Tidak Setuju (STS)!

Motivasi Belajar Biologi

SS

S

RR

TS

STS

1. Mata pelajaran Biologi merupakan mata pelajaran yang disukai.

2. Mata pelajaran Biologi banyak bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari

3. Kalian mendiskusikan dengan teman-teman tentang hal-hal yang belum jelas dalam mata pelajaran Biologi.

4. Dalam belajar Biologi kalian menghubungkan dengan contoh sehari-hari yang ada di sekitar anda.

5. Kalian merasa senang bila mendapat nilai baik dalam mata pelaja-ran Biologi.

6. Kalian senang mata pelajaran Biologi disampaikan melalui metode praktikum.

7. Dengan metode praktikum, mata pelajaran Biologi akan mudah dimengerti dan diingat.

8. Kalian merasa bosan saat mengikuti kegiatan praktikum.

9. Dalam kegiatan praktikum siswa wajib menyusun laporan prakti-kum.

10. Kalian takut saat tidak dapat menjawab pertanyaan dari guru.

11. Kalian berusaha menjawab apabila ada pertanyaan dari guru.

12. Melalui kegiatan praktikum siswa memahami materi Ekosistem






Rambu-rambu analisis aspek motivasi belajar siswa

Motivasi belajar siswa dapat diidentifikasikan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar yang terdiri atas tiga komponen yaitu aspek tingkah laku, aspek kognitif dan aspek ketertarikan serta dari angket yang diberikan kepada siswa. Indikator yang dijadikan penentu tingkat keberhasilan tindakan ditinjau dari motivasi siswa selama mengikuti pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 5. Sedangkan skor dari masing-masing uraian ditentukan berdasarkan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Tabel 5.

Persentase keberhasilan tindakan terhadap peningkatan motivasi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Adapun penentuan skor masing-masing uraian dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Penentuan Skor Masing-masing Uraian

Skor

Ketentuan

1

2

3

4

5

0-9% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

10-39% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

40-59% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

60-79% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

80-100% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

Sukrisdiyana (2002)

Tabel 6. Penentuan Keberhasilan Tindakan

Penentuan Keberhasilan Tindakan

Taraf Keberhasilan

Nilai dengan Huruf

Nilai dengan Angka

80 - 100%

60 - 79%

40 - 59%

10 - 39%

0 - 9%

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

A

B

C

D

E

5

4

3

2

1

Sukrisdiyana (2002:36)

Untuk mempermudah penghitungan persentase keberhasilan dan penentuan taraf keberhasilan tindakan, data tentang motivasi siswa baik semua aspek secara keseluruhan maupun masing-masing aspek diringkas dan ditampilkan dalam bentuk Tabel 7.

Tabel 7. Taraf Keberhasilan Tindakan Ditinjau dari Aspek Siswa

Tahap

Hari/

Tgl

Skor klasikal yang diperoleh

Skor klasikal maksimum

Persentase keberhasilan

Nilai dengan huruf

Nilai denganangka

Taraf Keberhasilan

1.

2.








Rambu-rambu analisis aspek aktivitas belajar siswa

Aktivitas belajar siswa dapat diidentifikasikan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Aktivitas belajar terdiri dari empat komponen yaitu melakukan pengamatan, merekam data pengamatan, mengkomunikasikan hasil pengamatan dan penyelesaian tugas, dengan skor maksimum komponen 3 sehingga skor total yang diperoleh 12. Indikator yang dijadikan penentu tingkat keberhasilan tindakan ditinjau dari aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 3.

Persentase keberhasilan tindakan terhadap peningkatan aktivitas dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:




Adapun penentuan skor masing-masing uraian dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Penentuan Skor Masing-masing Uraian

Skor

Ketentuan

1

2

3

4

5

0-9% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

10-39% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

40-59% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

60-79% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

80-100% siswa yang menunjukkan aktivitas seperti yang tertulis pada uraian

Sukrisdiyana (2002)

Untuk lebih mempermudah penghitungan persentase keberhasilan dan penentuan taraf keberhasilan tindakan data tentang motivasi siswa, baik semua aspek secara keseluruhan maupun masing-masing aspek diringkas dan ditampilkan dalam bentuk Tabel 9 dan 10.

Tabel 9. Penentuan Keberhasilan Tindakan

Penentuan Keberhasilan Tindakan

Taraf Keberhasilan

Nilai dengan Huruf

Nilai dengan Angka

80 - 100%

60 - 79%

40 - 59%

10 - 39%

0 - 9%

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

A

B

C

D

E

5

4

3

2

1

Sukrisdiyana (2002)

Rambu-rambu analisis untuk hasil belajar siswa

Hasil belajar diperoleh dari hasil tes formatif dengan materi tes sub bab Komponen-komponen Ekosistem dan Peran dan Interaksi Komponen Ekosistem. Skor maksimal adalah 100 (jika siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat) dan skor minimal adalah 0 (jika siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sama sekali). Selanjutnya dihitung jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 65 karena dianggap sudah mendapatkan ketuntasan belajar selama tahap I dan II.